Rumah Minimalis

Cara sukses wawancara kerja



Anda seringkali ditolak saat wawancara kerja? Tak tahu cara membuat pewawancara terkesan? Jangan khawatir. Di bawah ini Yahoo! Shine akan memberikan saran-saran dari para ahli, agar Anda bisa melewati wawancara kerja dengan sukses dan mendapatkan pekerjaan impian.

1. Barbara Safani, seorang presiden Career Solver di Manhattan mengatakan: "Wawancara kerja dimulai saat Anda memasuki gedung."

Jadi, perhatikan segala perilaku Anda saat Anda memasuki gedung tempat Anda akan diwawancara kerja. Jangan buang sampah sembarangan, bersikaplah ramah pada resepsionis atau asisten manajer. Hal-hal yang tampak sepele ini bisa membuat Anda kehilangan kesempatan kerja.

2. Jangan gunakan wawancara kerja untuk mencari tahu mengenai perusahaan itu. Karena seharusnya Anda harus sudah mengetahuinya sebelumnya. Menyiapkan segala informasi mengenai perusahaan yang Anda lamar sangat penting untuk menambah wawasan Anda. Ketika tiba saat wawancara, Nancy Collamer, seorang konsultan karir, menyarankan Anda untuk menanyakan budaya perusahaan atau hal-hal yang menyangkut tantangan bisnis.

3. "Terkadang lebih menarik dan meyakinkan ketika Anda menunjukkan apa yang sudah Anda kerjakan." Kata Collamer. Maksudnya adalah menunjukkan secara langsung hasil kerja Anda. Jika Anda bekerja dalam bidang desain maka menunjukkan hasil desain Anda pada pekerjaan sebelumnya akan sangat membantu meningkatkan 'harga' Anda di mata pewawancara.

Tiga langkah di atas akan memberikan Anda nilai tambah yang mungkin sedang dicari oleh calon perusahaan Anda. Ketika selesai wawancara, jangan lupa ucapkan terima kasih, atau kirimkan kartu terima kasih untuk menghargai kesempatan yang diberikan pada Anda.

Peluang bisnis hijab selalu terbuka

Mengenakan busana muslim kini sudah menjadi tren di kalangan perempuan Indonesia. Tren ini tentu mendatangkan berkah bagi para pebisnis busana muslim, baik yang bergerak di bidang produksi maupun penjualan.

Menangkap peluang bisnis ini, butik busana muslim Hazna Hijab Store menawarkan peluang usaha kemitraan sejak awal berdiri di tahun 2010 lalu. Hazna Hijab Store berada di bawah naungan PT Hazna Indonesia yang berbasis di Bandung, Jawa Barat.

"Awalnya bernama Hazna Distro lalu kami ganti menjadi Hazna Hijab Store," terang Kusna Santika, Marketing and Business Development Manager PT Hazna Indonesia.

Hazna menawarkan peluang usaha busana muslim bagi para remaja dan wanita dewasa dengan target usia mulai 17 - 25 tahun. Produknya meliputi kerudung, abaya, dan gamis.

Saat ini, telah ada 20 gerai Hazna yang tersebar di Jakarta, Solo, Kediri, Madiun, Sidoarjo, dan Banjarmasin. Dari 20 gerai itu, hanya dua milik pusat dan sisanya milik mitra. "Bulan depan kami launching lima gerai baru," ujar Kusna.

Hazna Hijab Store menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket tipe mal dengan luas tempat sekitar 30 meter persegi. Investasi paket ini mencapai Rp 200 juta. Bila mengambil paket ini, mitra mendapatkan stok produk senilai Rp 75 juta, furnitur, dekorasi, seluruh peralatan material toko dan promosi serta pelatihan.

Biaya investasi juga sudah termasuk hak memakai brand Hazna Hijab Store untuk seterusnya tanpa dikenakan biaya perpanjangan. Mitra paket ini diestimasikan bisa kembali modal dalam waktu setahun. Dengan asumsi, mitra meraup omzet Rp 90 juta per bulan dengan laba bersih 20%.

Kedua, paket tipe ruko dengan luas tempat 50 meter persegi. Paket ini mematok investasi Rp 300 juta. Fasilitas yang didapat sama dengan paket pertama. Bedanya stok produk awal lebih banyak, yakni senilai Rp 125 juta. Furnitur yang didapat juga lebih banyak sesuai luas toko.

Mitra tipe ruko ini ditargetkan balik modal dalam waktu sekitar satu tahun. Adapun estimasi omzet sebesar Rp 120 juta per bulan dengan laba bersih 20%.

Aneka busana muslim di Hazna hijab Store dibanderol mulai harga Rp 35.000 untuk kerudung hingga Rp 300.000 untuk pakaian. Margin dari setiap produk 40% dari harga jual. "Produk kami sering digunakan dalam sinetron religi," klaim Kusna.

Saat ini, Hazna juga menggunakan artis Marshanda dan Risty Tagor sebagai Brand Ambassador. Sri Wahyuni, mitra Hazna Hijab dari Banjarmasin mengaku, peluang bisnis butiknya cukup baik bahkan terus berkembang.

Sri bergabung sejak bulan Mei 2011 dan sudah balik modal setahun kemudian. "Selalu ada peningkatan penjualan, setiap ada katalog baru pasti diserbu," ujarnya. Kini gerai miliknya juga telah memiliki agen dan distributor sendiri. Adapun pelanggan kini mencapai ratusan.   

PT Hazna Indonesia
Jl Merdeka No 49, Bandung, Jawa Barat
HP: 081210141001

Bawang Goreng Indonesia Bikin Orang Singapura Ketagihan


Siapa sangka bawang goreng asli Indonesia yang sering jadi taburan mie goreng atau masakan apapun, membuat warga Singapura jadi ketagihan.

Dalam Suatu Bazar Geylang Singapura, warga Singapura sangat antusias dalam memborong bawang goreng. “Yang paling laku bawang goreng,” kata Dewi salah seorang penjual di Paviliun Indonesia, baru-baru ini.

Menurut Dewi, tingginya minat pada bawang goreng Indonesia, karena di Singapura sulit menemukan bawang merah karena yang paling banyak dijumpai adalah bawang bombay.
Dalam sehari, pengusaha UKM asal Kota Tanjungpinang mampu menjual sampai 100 kantong bawang goreng dengan kapasitas setengah ons per kantong. Setiap kantong dibanderol seharga 2 dolar Singapura atau sekitar Rp 15.000. Di Indonesia, biasanya, ukuran yang sama dihargai Rp 3.000-4.000 per kantong.

Dewi mengatakan, setiap dua hari dia balik ke Tanjungpinang untuk mengambil bawang goreng untuk stok. Dia bahkan punya merek sendiri, Aroma. Selain itu, juga telah mendapatkan sertifikasi halal, izin dinas kesehatan dan izin makanan impor Singapura.
Pelaku UKM lainnya, Fartiana juga mengaku bawang goreng dan kerupuk gonggong paling laku saat ini. Dia pun menargetkan untuk menjual bawang goreng dalam partai besar untuk ekspor. Tidak lagi seperti saat ini dalam bentuk jualan skala kecil.

Bahkan, kata dia, beberapa pengusaha Singapura tertarik mengembangkan bisnis bawang goreng tersebut dengan menjual produknya.

Sukses Berkat Manfaatkan Limbah Konveksi

Di balik tangan kreatif Kartini, beragam boneka karakter hewan dihasilkan. Pemilik UD Aldin Nature Home, yang berada di Jl Bangunharjo I Kav 14, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah ini menekuni usaha tersebut sejak 1997. Industri rumahan pembuatan boneka tersebut memanfaatkan limbah konveksi pabrik garmen. Idenya sederhana, menjadikan limbah konveksi seperti perca kain dan potongan dakron sebagai boneka yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh.

”Suami saat itu beternak burung perkutut hingga 600 ekor, namun bangkrut karena krisis moneter. Kami lantas memutar modal yang tersisa untuk membangun usaha dari awal lagi,” ujar ibu empat anak ini.

Kartini dan suaminya, Tuwanto, mencoba peruntungan dengan membuat lap kacamata berukuran 15x11,5 cm. Hanya bermodalkan Rp 80.000, keduanya membeli perca kain limbah konveksi pabrik garmen yang berada di Karangjati Ungaran. Semula mereka memproduksi 20 gros. Lap kacamata tersebut ditawarkan ke toko optik yang berada di belakang rumah. Pesanan pun meningkat hingga 300 gros, sehingga mereka mempekerjakan 20 orang karyawan.

Usaha tersebut berlangsung berkembang pesat. Tak berhenti disitu, Tuwanto yang sehari-hari pegawai negeri di Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BPPI) terus mengembangkan jaringan usaha. Ia mendatangi pedagang boneka di simpang lima, guna menawarkan bahan baku boneka. Tawaran pun bersambut positif. Jadilah ia memasok kain dan isian boneka berupa dakron.

Namun kian lama bahan baku tersebut semakin terbatas, ia dan suami berpikir untuk membuat sendiri boneka. Mulanya nenek lima cucu itu membeli satu boneka, lantas dibongkar. Dasar bakat, Kartini tak butuh waktu lama untuk belajar membuat boneka. ”Dari melihat dan membongkarnya, kami tahu cara membuat boneka,” ujar Kartini mengaku keterampilan yang dimiliki hanyalah menjahit.

Karena modal terbatas, semula mereka hanya memproduksi satu kodi boneka. Tuwanto memasarkan boneka itu dengan menggelar dagangan di depan pabrik pada pagi dan sore. Selain itu, ia menawarkan juga ke kantor Kementerian Agama (Kemenag) yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. ”Boneka kami sering dijadikan cinderamata oleh pegawai Kemenag selepas mengikuti pra jabatan,” imbuhnya.

Tidak main-main pesanan dari pegawai Kemenag itu tiap bulan rata-rata mencapai 300 boneka. Itu belum termasuk yang diambil pedagang boneka. Sekali ambil, satu orang pedagang boneka bisa memesan 100 boneka. Kini dalam sehari, sedikitnya ia dibantu dua orang karyawan mampu memproduksi 20 boneka. Usaha mereka dengan cepat berkembang. Tidak hanya mampu membangun rumah, dari usaha itu mereka mampu mengkuliahkan anak dan dua orang karyawannya tersebut.

Sepanjang hari ia terus berproduksi. Menurutnya, kendati harga bahan baku yang terus merangkak naik namun usaha pembuatan boneka ini stabil. Kiat menjaga kelangsungan usaha itu, tutur Kartini, terus melakukan inovasi. Bisa dibilang tidak ada sisa limbah konveksi yang dijadikan bahan baku boneka itu terbuang.